MI Sirojut Tholibin Mendidik Ruhani Sejak Dini
Oleh : Akhmad Sururi
Ada ilmu yang membuat seseorang mampu menjawab pertanyaan. Ada pula pendidikan yang membuat seseorang mampu menemukan arah kehidupannya. Yang pertama mengasah pikiran, sedangkan yang kedua membentuk jiwa.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, anak-anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan akademik. Mereka membutuhkan pegangan batin agar mampu membedakan antara yang baik dan buruk, antara keinginan dan kebutuhan, antara kebebasan dan tanggung jawab.
Karena itu, pendidikan ruhani tidak boleh menunggu anak menjadi dewasa. Ruhani harus dididik sejak dini, ketika hati masih mudah menerima keteladanan, ketika kebiasaan sedang dibentuk, dan ketika nilai-nilai kehidupan sedang menemukan tempatnya dalam diri seorang anak.
Dalam konteks itulah, keberadaan MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa memiliki makna yang tidak sederhana. Madrasah bukan hanya ruang untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga tempat menumbuhkan iman, akhlak, adab, dan kesadaran bahwa ilmu harus membawa manfaat.
Dari Sebuah Ikhtiar Menjadi Perjalanan Pengabdian
MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa berdiri pada tahun 2005. Kehadirannya berawal dari sebuah ikhtiar pendidikan yang digagas oleh Drs. Syaifulloh dan Akhmad Sururi, atas inisiatif Drs. Soedarjo HS, Pengawas RA/MI dan Madin Kecamatan Larangan.
Dalam perjalanan awalnya, H. Solehudin dan Drs. Syaifulloh menjadi bagian penting sebagai pendiri madrasah. Setahun kemudian, pada 2006, izin penyelenggaraan madrasah terbit dan diserahkan oleh Hj. Khulasoh, Kasi Penmad Kemenag Brebes.
Perjalanan kepemimpinan madrasah pun mengalami estafet pengabdian. Drs. Syaifulloh memimpin pada 2005–2009, kemudian dilanjutkan Akhmad Sururi pada 2010–2014, Sugianto pada 2014–2015, Fahruri pada 2015–2022, dan Akhmad Sururi kembali memimpin sejak 2022 hingga 2027.
Perjalanan tersebut bukan sekadar catatan administratif. Di dalamnya terdapat semangat para pendidik, pengelola, orang tua, tokoh masyarakat, dan seluruh pihak yang terus menjaga keberlangsungan madrasah.
Sebuah lembaga pendidikan pada hakikatnya dibangun bukan hanya dengan gedung dan fasilitas, tetapi dengan ketulusan orang-orang yang bersedia mengabdikan hidupnya untuk masa depan anak-anak.
Pendidikan yang Menyentuh Hati
Pendidikan ruhani berangkat dari kesadaran bahwa anak bukan sekadar objek pembelajaran. Anak adalah manusia kecil yang sedang bertumbuh dengan seluruh potensi dirinya.
Ia memiliki pikiran yang perlu dicerdaskan, perasaan yang perlu diarahkan, dan ruhani yang perlu disirami nilai-nilai kebaikan.
Maka proses pendidikan tidak boleh kehilangan sentuhan kemanusiaan.
Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi. Guru perlu mengenal karakter murid, memahami perkembangannya, mendengarkan kegelisahannya, serta memberikan keteladanan.
Satu ucapan yang lembut dapat menumbuhkan kepercayaan diri. Satu keteladanan dapat menjadi pelajaran seumur hidup. Sebaliknya, perlakuan yang tidak tepat dapat meninggalkan pengalaman yang membekas.
Karena itu, mendidik ruhani berarti mendidik dengan ilmu sekaligus dengan hati.
Akhlak sebagai Napas Pendidikan
Dalam tradisi pendidikan Islam, ilmu dan akhlak tidak dapat dipisahkan.
Anak yang berilmu tetapi tidak memiliki adab akan menghadapi persoalan dalam menggunakan ilmunya. Sebaliknya, akhlak yang baik tanpa dibarengi pengetahuan juga membutuhkan penguatan agar mampu menghadapi kompleksitas kehidupan.
Madrasah memiliki ruang strategis untuk mempertemukan keduanya.
Anak diajarkan membaca dan memahami ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus dibiasakan menghormati guru. Anak dikenalkan dengan teknologi, tetapi juga diajarkan tanggung jawab. Anak didorong berprestasi, tetapi tetap dibimbing untuk rendah hati.
Inilah keseimbangan yang harus terus dijaga.
Prestasi adalah capaian, sedangkan akhlak adalah arah. Keduanya harus berjalan bersama.
Membiasakan Kebaikan
Pendidikan ruhani tidak selalu hadir dalam bentuk pelajaran yang berat. Sering kali ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil.
Berdoa sebelum belajar. Mengucapkan salam. Menghormati guru. Berbicara santun. Menjaga kebersihan. Menolong teman. Berani meminta maaf. Mengakui kesalahan. Bersyukur. Berbagi.
Kebiasaan sederhana tersebut apabila dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter.
Anak tidak hanya diberi tahu tentang kebaikan, tetapi diajak mengalami, melakukan, dan merasakan manfaat dari kebaikan tersebut.
Di sinilah budaya madrasah menjadi sangat penting. Lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang aman, nyaman, religius, dan penuh keteladanan.
Guru sebagai Teladan Ruhani
Seorang guru sesungguhnya tidak pernah berhenti mendidik, bahkan ketika ia tidak sedang menjelaskan pelajaran.
Cara guru berbicara adalah pendidikan. Cara guru menyelesaikan masalah adalah pendidikan. Cara guru menghargai murid adalah pendidikan. Bahkan kesabaran guru ketika menghadapi berbagai karakter anak merupakan pendidikan yang jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat.
Karena itu, guru MI Sirojut Tholibin memiliki peran strategis dalam membangun generasi.
Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing, teladan, penguat karakter, dan penjaga nilai.
Dari guru, anak-anak belajar bahwa ilmu harus disertai adab dan pengabdian.
Keluarga sebagai Rumah Ruhani Pertama
Madrasah tidak mungkin bekerja sendirian.
Sebelum mengenal ruang kelas, seorang anak telah lebih dahulu mengenal rumah. Di sanalah ia belajar bahasa, sikap, kasih sayang, kedisiplinan, dan kebiasaan.
Karena itu, pendidikan ruhani harus menjadi gerakan bersama antara madrasah dan keluarga.
Apa yang dibangun di madrasah perlu mendapatkan penguatan di rumah. Begitu pula sebaliknya, nilai-nilai baik yang dibiasakan keluarga harus mendapatkan ruang di lingkungan madrasah.
Ketika guru dan orang tua memiliki arah yang sama, anak akan mendapatkan lingkungan pendidikan yang lebih utuh.
Masyarakat sebagai Ruang Pengamalan
Pendidikan juga tidak berhenti di pagar madrasah.
Masyarakat merupakan ruang tempat anak melihat bagaimana nilai-nilai agama dan kemanusiaan diterapkan dalam kehidupan nyata.
Anak perlu melihat budaya gotong royong, kepedulian sosial, penghormatan kepada orang tua, penghargaan kepada guru, serta kehidupan keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, madrasah tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem sosial yang saling menguatkan.
Madrasah mendidik anak, keluarga menguatkan, dan masyarakat memberi ruang untuk mengamalkan.
Menjawab Tantangan Zaman
Generasi hari ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi datang begitu cepat. Teknologi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berbagai nilai dan budaya dapat hadir ke hadapan anak melalui berbagai saluran.
Meski Rengaspendawa secara sosiologis termasuk desa, akan tetap akses informasi sudah mewarnai sudut sudut rumah. Sehingga masyarakat sudah sedikit bisa membaca dunia luar terkait apapun.
Kemajuan tersebut tidak perlu ditakuti. Yang dibutuhkan adalah kemampuan anak untuk menghadapinya dengan bekal nilai.
Anak harus memiliki kecakapan menggunakan teknologi sekaligus kemampuan mengendalikan diri. Mereka perlu terbuka terhadap pengetahuan tetapi tetap memiliki akar budaya dan agama.
Inilah tantangan pendidikan madrasah hari ini: membentuk generasi yang mampu berjalan maju tanpa kehilangan arah.
Dari Rengaspendawa untuk Masa Depan
Perjalanan MI Sirojut Tholibin sejak 2005 merupakan bagian dari perjalanan panjang pengabdian pendidikan di Rengaspendawa.
Setiap generasi yang pernah belajar di dalamnya membawa cerita masing-masing. Ada yang melanjutkan pendidikan, mengabdi kepada masyarakat, membangun keluarga, bekerja di berbagai bidang, dan mengambil peran dalam kehidupan sosial.
Di balik perjalanan tersebut terdapat satu harapan yang sama: agar pendidikan yang diterima di madrasah tidak berhenti menjadi kenangan, tetapi menjadi bekal kehidupan.
Sebab ukuran keberhasilan madrasah bukan hanya berapa banyak lulusan yang memperoleh nilai tinggi. Ukuran yang lebih dalam adalah seberapa jauh nilai-nilai yang ditanamkan mampu hidup dalam diri mereka setelah meninggalkan bangku madrasah.
Menanam Hari Ini, Memanen Peradaban Esok
Mendidik ruhani sejak dini sesungguhnya adalah pekerjaan peradaban.
Kita mungkin tidak segera melihat hasilnya. Benih yang ditanam hari ini membutuhkan waktu untuk tumbuh. Tetapi suatu saat, anak-anak yang hari ini belajar membaca Al-Qur'an, belajar menghormati guru, belajar menyayangi teman, dan belajar bertanggung jawab akan menjadi orang-orang dewasa yang mengambil keputusan dalam kehidupan masyarakat.
Di tangan merekalah masa depan keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama akan berada.
Karena itu, setiap guru yang mengajar dengan tulus sesungguhnya sedang menanam masa depan. Setiap orang tua yang mendampingi pendidikan anak sedang membangun fondasi peradaban. Dan setiap lembaga pendidikan yang menjaga akhlak generasi sesungguhnya sedang merawat masa depan umat.
MI Sirojut Tholibin harus terus menjadi tempat di mana ilmu menemukan akarnya dalam iman, kecerdasan menemukan arahnya dalam akhlak, dan pendidikan menemukan maknanya dalam pengabdian.
Sebab anak-anak hari ini bukan sekadar murid yang datang ke madrasah.
Mereka adalah amanah, harapan, dan calon pemegang estafet kehidupan.
Mendidik ruhani mereka sejak dini berarti menyiapkan generasi yang bukan hanya mampu menghadapi zaman, tetapi juga mampu memberikan arah bagi zaman.
Dan dari Rengaspendawa, ikhtiar itu terus dinyalakan.